Membeli Laptop Bekas atau Laptop Baru?


Saya punya pengalaman buruk ketika membeli laptop. Setiap laptop yang saya beli, performanya jauh dari kata memuaskan. Selalu laggy dan lambat deh pokoknya mah.

Ini karena saya lebih mengutamakan harga termurah ketimbang performa. Ditambah lagi saat itu saya awam banget soal part-part laptop dan spesifikasinya. Saya gak tau kalo harga sangat mempengaruhi lambat atau tidaknya sebuah laptop.

Semakin kesini saya semakin belajar untuk memahami, setidaknya dasar-dasar dari sebuah notebook akan maksimal kinerjanya jika spesifikasi ini dan itu ada. Dibawah itu akan kurang kinerjanya.

Setelah sedemikian rupa, akhirnya saya bisa menarik kesimpulan bahwa untuk keperluan office, prosesor dengan Intel Core i3 dengan seri berapapun masih cukup kuat menjalankan komputasi ringan tanpa ngelag. Hal ini saya tahu dari laptop bapak saya yang prosesornya Core i3 generasi pertama, masih lancar jaya ketika digunakan.

Sedangkan laptop saya dengan prosesor AMD seri E, lambatnya minta ampun. Padahal RAM sudah 4 GB. Setelah saya cek ternyata prosesor AMD saya hanya memiliki clock sebesar 1 GHz saja. Diajak untuk membuka program saja, penggunaan prosesor sudah menyentuh 90%. Apalagi untuk multitasking? Jelas ga kuat.

Saya tahu bahwa bagus atau tidak kinerja sebuah laptop itu tidak tergantung pada prosesor saja. Masih ada RAM dan jenis storage yang mampu mendongkrak performa sebuah laptop. RAM besar akan mampu membuat laptop gampang diajak multitasking, dan storage jenis SSD akan meningkatkan kecepatan baca-tulis secara signifikan ketika membuka sebuah program.

Untuk itu saya mencoba membeli sebuah laptop dengan prosesor minimal Intel Core i3, RAM 4GB, dan storage harddisk. Kenapa harddisk? Karena laptop dengan storage SSD masih jarang banget. Kalaupun ada, harganya bisa di atas 8 juta.

Dan saya gak punya uang sebesar itu.

Jadilah saya membeli laptop bekas. Saya beli secara online karena agak sulit mencari penjual laptop bekas di kota saya.

Awalnya ingin mencari laptop yang harganya sekitar 4 jutaan. Tapi dipikir-pikir karena kebutuhan saya hanya untuk mengetik dan browsing, jadinya budget dipress hingga dibawah 3 juta.

Akhirnya ketemulah laptop yang ingin saya beli. Laptop tersebut adalah Dell Latitude E6330. Prosesor Intel Core i3 Ivy Bridge seri M, RAM 4GB, dan SSD 128GB. Bagi saya spesifikasi seperti ini sudah cukup sekali. Ditambah build quality dari Dell Latitude E6330 emang kokoh banget. Khas laptop kantor jaman dulu yang lebih memperhatikan durability. Ditambah SSD yang sampai hari ini membuat saya tidak ingin berpindah lagi ke HDD konvensional.

Saya beli dengan harga dibawah 3 juta. Memang ada minusnya. Seperti goresan dan whitespot di layar. Namun itu tidak mengganggu asalkan baterai oke dan internet lancar, kekurangan tersebut masih bisa saya kompromikan.

Harga tersebut sangat terjangkau dibandingkan laptop baru yang murah tapi spesifikasinya hanya sekedar Intel Celeron. Laptop 3 jutaan menurut saya kurang pas jika ingin beli yang baru. Minimal 5 juta agar performanya tidak mengecewakan.

Dengan harga laptop 5 juta, kamu bisa mendapatkan “otak” yang lebih bertenaga. Seperti AMD Ryzen 3 Mobile terbaru atau Intel Core i3 generasi keenam. Keduanya lebih bertenaga ketimbang prosesor laptop saya yakni Intel Core i3 seri ketiga Ivy Bridge dan jauh lebih bertenaga ketimbang Intel Celeron ataupun AMD seri E. Apalagi ditambah SSD, makin kencang saja.

Atau beli laptop bekas. Tapi memang kita perlu memilah-milah mana yang laptop bekas berkualitas dan mana laptop bekas yang jelek.

Kesimpulannya, jika kita hanya punya dana mentok 3 juta dan ingin beli laptop, sebaiknya ditabung lagi hingga dana terkumpul minimal 5 juta karena performanya menjanjikan untuk keperluan office dan browsing. Atau jika tidak ingin menunggu lama, membeli laptop bekas merupakan pilihan yang bijak asalkan kita bisa memilih mana laptop bekas yang masih tahan minimal 2 tahun ke depan.

Semoga bermanfaat dan jika ada pertanyaan silakan tulis di kolom komentar yah!

My Instagram