GoPro Dahulu dan Kini


GoPro adalah kamera yang keren! Semua petualang pasti membawa kamera aksi yang satu ini. Desainnya simpel, kecil, mudah dibawa, dan tentunya keren!

Jadi tidak heran kalau beberapa acara petualangan di televisi menggunakan kamera aksi GoPro sebagai alat wajib untuk mendokumentasikan petualangan mereka di sebuah tempat wisata.

GoPro juga digunakan sebagai perekam untuk memperlihatkan kebolehan seorang penyuka adrenalin melakukan aksi berbahayanya. Entah itu panjat tebing, terjun payung, ski, dan olahraga lainnya.

Tidak heran kalau kamera aksi ini seringkali digunakan pada olahraga ekstrim karena sang CEO sendiri, Nick Woodman, adalah penyuka olahraga yang memacu adrenalin.

Sekilas, GoPro adalah sebuah perusahaan yang memiliki profit banyak karena produk mereka laku keras di pasaran. Kalau menurut penulis, GoPro adalah Apple-nya produk kamera. Diidamkan setiap orang dan siapapun yang memakainya akan terlihat keren (dan terlihat seperti seorang petualang sejati)

Tetapi ternyata perusahaan ini tidaklah seperti yang penulis pikirkan. Beberapa hari yang lalu, GoPro memecat seluruh karyawannya dari divisi drone Karma karena kegagalannya untuk sukses di pasaran.

Alih-alih mendapatkan keuntungan. Drone Karma justru memiliki banyak keluhan. Salah satunya adalah karena hilangnya tenaga ketika berada di udara. Tidak hanya satu komplain, tetapi ratusan.

Kegagalan ini cukup mengherankan. Perusahaan sebesar GoPro tidak mampu membuat produk yang bagus untuk drone. Padahal mereka sudah punya nama di pasar kamera aksi. Sering tertundanya perilisan Karma juga seakan jadi tanda awal bahwa produk ini tidak akan laris di pasar.

Situasi ini justru menguntungkan DJI yang justru jadi raja di pasar drone. Gagalnya GoPro Karma secara tidak langsung membuat perusahaan asal China tersebut makin mengukuhkan eksistensinya di pasar drone.

Dan yang terbaru, sang CEO nya hanya digaji 1 dollar AS saja setelah sebelumnya menerima 800 ribu dollar AS plus bonus.

Selepas sahamnya dilepas ke publik, GoPro, dengan kode GPRO pada pasar saham Amerika justru terus mengalami kemunduran dari sisi kinerja dan minim inovasi.

Saham tertinggi GoPro (GPRO) di pasar bursa Amerika terjadi pada 3 Oktober 2014, dimana menyentuh harga 86,97 dollar per lembar saham. Tumbuh dua kali lipat lebih ketimbang pada saat pertama pelepasan saham GoPro ke publik yakni 35,76 dollar per lembar saham pada tanggal 27 Juni 2014.

Tetapi sekarang, per pagi tadi pada saat tulisan ini dibuat, harga sahamnya hanya sekitar 6 dollar AS per lembarnya. Angka yang sangat jauh dibandingkan nilai tertingginya ataupun ketika melepas saham perdananya.

Ini menandakan ada masalah yang serius pada GoPro. Sejatinya GoPro adalah perusahaan rintisan yang justru sudah bisa meraup keuntungan dibandingkan perusahaan rintisan lain yang masih belum bisa meraup keuntungan.

Belum lagi persaingan yang ketat pada kelas action cam. Awalnya hanya GoPro yang terjun pada pasar ini. Tetapi muncul pesaingnya yang tidak ingin GoPro memonopoli pasar ini. Salah satu kompetitornya adalah Xiaomi Yi yang dibandrol jauh lebih murah dibandingkan GoPro Hero 5.

Pasar pecinta adrenalin pun ternyata tidak terlalu besar. Hanya sedikit yang berani untuk menjalankan olahraga ekstrim dan berbahaya atau pecinta petualangan. Ini menyebabkan produk terbaru yang dijual kurang laris di pasaran.

Bagaimana nasib GoPro kedepannya? Belum bisa dipastikan. Yang jelas, perusahaan ini membuka diri bagi siapapun untuk mengakuisisinya.

Mungkin jika GoPro melebarkan segmentasinya kepada konsumen umum, suksesnya drone Karma, dan harga yang lebih murah, mungkin ceritanya akan lain.
Diberdayakan oleh Blogger.