Android One yang Naik Kasta


Android One diluncurkan beberapa tahun yang lalu dengan misi yang mulia. Misinya adalah membuat orang dari kalangan low-end mampu membeli perangkat Android dengan harga yang murah dan bebas dari yang namanya lag.

Android One sendiri adalah sebuah program dari Google yang proses pembuatannya dari awal sampai akhir diatur oleh Google. Hal ini bertujuan agar pengguna mendapatkan software dan hardware yang optimal untuk menjalankan Android One yang notabenenya adalah Android versi pure Android tanpa kustomasi pabrikan ponsel.

Indonesia juga pernah kebagian Android One melalui 3 pabrikan lokalnya. Evercoss, Mito, dan Nexian. Dari ketiganya, hanya Evercoss yang mampu tetap bertahan dari kerasnya persaingan smartphone dalam negeri.

Selain itu, Infinix juga pernah meluncurkan ponsel pintar yang dibalut Android murni ini melalui Infinix Hot 2.

Namun setelah sekian lama program ini berjalan, ternyata tidak terlalu menarik minat pengguna smartphone. Entah itu karena kurang menarik, atau juga kurang promosi.

Yang jelas saya pernah menggunakan Evercoss One X, salah satu smartphone Android One generasi awal dan impresinya cukup baik. Bertenaga, jarang lag, dan murah.

Setelah Infinix Hot 2, Android One kurang terdengar kiprahnya lagi dan mungkin tenggelam oleh pabrikan lain.

Lama tak terdengar kabarnya, ternyata Android One coba dibangkitkan kembali oleh Google dengan menggaet Xiaomi sebagai mitra untuk mengerjakan proyek Android murni ini dengan Xiaomi Mi A1 sebagai smartphone terbaru dari Android One dan menaikkan proyek Google tersebut ke level yang lebih tinggi.

Ini merupakan kolaborasi yang hebat. Xiaomi yang terkenal dengan memproduksi smartphone bertenaga dengan harga yang murah dan memiliki basis pengguna yang kuat, dipadukan dengan Android One tentu smartphone ini jadi sangat bertenaga.

Dan tentunya penggemar smartphone juga akan senang dengan kolaborasi ini. Soalnya Xiaomi Mi A1 dibandrol dengan harga 3,1 juta rupiah saja.

Hadir dengan dual camera dan Snapdragon 625 yang jadi nilai plus bagi smartphone ini. Xiaomi yang selama ini menggunakan MIUI sebagai interface pada ponsel mereka, sekarang berubah menjadi menggunakan Android One yang jelas membuat Mi A1 ini semakin kencang performanya.

Dan bagi Indonesia, kehadiran Mi A1 ini terasa spesial. Soalnya Xiaomi terakhir kali merilis varian Mi yang merupakan ponsel kelas atas dari pabrikan asal Tiongkok tersebut, adalah Xiaomi Mi4i yang dirilis tahun 2015 lalu. Setelah itu tidak ada lagi varian Mi yang diboyong ke Indonesia.

Tidak hanya Xiaomi. Motorola juga merilis Moto G5s yang menggunakan Android One dengan spesifikasi kelas menengah dan hampir sama seperti Xiaomi Mi A1.

Harapannya ini akan membuat Android One kembali naik pamornya dan sepertinya akan mengubah citra proyek Google tersebut dari untuk ponsel low-end menjadi untuk  ponsel kelas mid-end.

Selain itu hal ini mampu mereduksi fragmentasi penggunaan Android di dunia. Seperti yang kita tahu bahwa tidak semua smartphone dengan sistem operasi Android mendapatkan update yang merata seperti pada perangkat iPhone. Pada Android, hanya versi mid to high saja yang mendapatkan pembaruan.

Itupun hanya bertahan 1 atau 2 tahun saja.

Kalau kita melihat data yang ada, penggunaan Android versi Marshmallow, Lollipop 5.1, dan KitKat masih mendominasi penggunaan Android dunia dengan 32,2% untuk Marshmallow, 21,7% untuk Lollipop versi 5.1, dan 15,1% untuk KitKat.  Versi Nougat sendiri menyusul dibelakangnya dengan persentase penggunaan 14,2%.

Android Oreo yang baru dirilis Google pun belum bisa diimplementasikan pada sebagian besar smartphone dengan sistem operasi dengan logo robot hijau ini karena produsen ponsel harus mengkustomasi dulu Android Oreo agar bisa digunakan pada smartphone besutan mereka agar stabil.

Beda jika Android yang digunakannya adalah pure Android tanpa kustomasi apapun dari produsen ponsel, seperti Android One yang digunakan Xiaomi Mi A1 dan Moto G5s.

Semoga Android One ini semakin naik kelas dan bisa menerima update lebih banyak karena langsung dari Google tanpa perantara.
Diberdayakan oleh Blogger.