Tentang Angkot


Hari Kamis tanggal 29 Juni kemarin saya membaca koran Pikiran Rakyat. Disana tertulis sebuah artikel yang berjudul “Solusi Angkot yang Sepi”.

Pada pembahasannya, angkot yang sepi memiliki banyak faktor. Faktor supir yang ugal-ugalan, ngetem, hingga armada yang terlalu banyak.

Saya setuju dengan pernyataan tersebut. Karena semakin kesini saya jarang memakai angkot sebagai transportasi untuk berkeliling kota ataupun jalan-jalan ke rumah teman misalnya.

Di satu sisi, penumpang ingin cepat sampai di tujuan. Di satu sisi sopir ingin memperbanyak pemasukan. Salah satu caranya, dan yang paling dibenci menurut saya, adalah ngetem.

Ngetem-nya ini tidak bisa ditentukan waktunya. Ada yang cuma beberapa menit dan ada juga yang menunggu penuh dulu baru jalan.

Ini sangat membuang waktu. Dari yang seharusnya dapat ditempuh 20 menit, bisa molor hingga 1 jam karena ngetem. Belum lagi kalau macet dan ngetem lagi di perjalanan.

Kan bete.

Apalagi waktu kemarin di Bandung, dari Bandung Indah Plaza (BIP) hingga Stasiun Bandung saya harus bayar 4000 untuk jarak yang menurut saya gak begitu jauh.

Memang sedikit, tapi menurut saya itu kemahalan.

Tapi menurut sopir angkot, tarif segitu mungkin sudah murah. Kenaikan BBM, spare part, setoran, jadi beberapa faktor yang menyebabkan harga dari BIP ke Stasiun jadi 4000.

Kenapa tidak menggunakan angkutan pribadi?

Karena Bandung itu anomali. Ketika Jakarta bisa kosong melompong karena libur lebaran, di Bandung tetap saja penuh orang dan macet. Sabtu-Minggu jangan ditanya macetnya kaya apa.

Angkutan umum sebenarnya gak bisa dibilang jelek hanya karena angkot dengan segala kekurangannya. Kereta api dan bis Damri mungkin bisa jadi contoh angkutan umum yang nyaman walaupun harganya cukup mahal.

Dengan Damri, dari Kotabaru Parahyangan sampai ke BIP harganya 8000. Kedengarannya mahal, tapi percayalah Damri yang sekarang bukanlah Damri yang dulu. Damri sekarang lebih nyaman dan adem. Kalaupun macet mungkin gak akan terlalu stress.

Atau mau pakai kereta api. Tiketnya dari Padalarang ke Bandung 4000. Bisa dilanjutkan dengan angkot, jalan kaki, atau ojek online.

Kereta api, walaupun termasuk kereta lokal, sudah sangat enak. Tidak terlalu berdesakan, sudah ada AC, dan tepat waktu.

Intinya nyaman lah.

Ojek online dan taksi online pun makin menggerus pendapatan dari sopir angkot. Gak heran kalau angkot sekarang semakin sepi.

Tapi kita juga gak bisa menyalahkan transportasi online juga karena mereka menawarkan angkutan yang relatif aman, nyaman, dan cepat.

Kalau kamu memilih juga tentu ingin yang nyaman bukan? Soal harga tidak jadi masalah. Toh harganya terbayarkan dengan kenyamanan.

Saya lebih memilih menggunakan angkutan umum kalau armadanya nyaman, aman, tepat waktu, dan relatif murah. Untungnya mall yang ada di Bandung seperti BIP, BEC, BTC, atau Gramedia tidak terlalu kesulitan dijangkau menggunakan angkutan umum seperti Damri ataupun kereta api.

Jika angkot tidak berbenah, mungkin nanti akan tertinggal dibandingkan transportasi umum lainnya. Sangat jauh tertinggal.
Diberdayakan oleh Blogger.