Sosial Media, Apakah Hanya Untuk Pamer Saja?


Rasanya sosial media gak bisa dilepas dari kehidupan manusia modern saat ini. Yakin deh setiap manusia di bumi ini setengahnya pasti memiliki satu akun sosial media. Entah itu Facebook, Twitter, ataupun LinkedIn bagi para profesional.

Untuk Facebook, saya sudah tidak menggunakannya lagi. Sekarang hanya sedikit aktif di Instagram dan Twitter.

Entah kenapa Twitter rasanya enak banget buat nyampah. Nyampah dalam arti menuangkan ide-ide liar, konyol, ataupun ide bodoh yang ketika itu melintas.

Beberapa sudah jadi tulisan. Beberapa lagi sudah dienyahkan karena terlalu bodoh he he.

Sosial media pada awalnya dibuat untuk mendekatkan yang jauh. Seperti sanak saudara di luar daerah ataupun teman lama yang sudah jarang banget ketemu untuk mengobrol. Atau setidaknya say hi, i'm still alive!

Tapi rasanya itu sudah mulai agak bergeser. Kecenderungan sosial media untuk membebaskan usernya mengupload apa saja dan harga smartphone yang semakin murah membuat banyak orang tergiur untuk menonjolkan sisi aku pada akun sosial medianya.

Aku punya ini. Aku bisa ini. Aku ke tempat ini.

Bisa dibilang itu benar. 80% benar.

Apalagi tempat wisata dan kuliner saat ini didesain untuk Instagram-able. Membuat tempat jualannya menjadi ikonik untuk menarik anak muda sekarang untuk berfoto dan menguploadnya ke sosial media.

Enggak salah. Bahkan justru inilah strategi baru untuk pemasaran kuliner. Membuat tempat menjadi menarik sedemikian rupa bagi anak muda, anak muda datang, berfoto, upload, dan jadilah promosi gratis si empunya tempat jualan.

Atau juga jadi ajang jualan yang sekarang ramai berjualan di Instagram. Jujur aja saya belum pernah belanja lewat Instagram. Masih abu-abu dan belum ada payment gateway seperti halnya Tokopedia atau Bukalapak.

Sosial media membuka ladang baru dan pekerjaan baru seperti influencer, buzzer, vlogger, dan endorser. Pekerjaan yang baru ada pada sekitar awal 2011.

Jadi sosial media gak hanya untuk pamer saja. Bisa juga dibuat untuk berjualan. Tapi promosinya yang tepat ya.

Banyak anak muda jualan, otomatis jumlah enterpreneur di Indonesia jadi bertambah. Mungkin dari 2% jadi sekitar 3%. Lumayan daripada stagnan.
Diberdayakan oleh Blogger.