Sang Perusak Pasar Itu Mulai Kehilangan Arah


Xiaomi dan Samsung adalah dua perusahaan yang berbeda generasi. Samsung sudah hadir sejak lama dan Xiaomi adalah "anak kemarin sore" yang mampu mengusik hegemoni pabrikan smartphone dunia.

Keduanya memiliki satu bisnis yang saling berhadapan. Yap bisnis smartphone adalah bisnis yang menyatukan mereka dalam satu kompetisi yang mengharuskan mereka berdarah-darah.

Kita masih ingat ketika Xiaomi menggebrak pasar dengan produk Redmi 1s nya. Dengan hadirnya Redmi 1s, produsen smartphone seperti ditampar habis-habisan oleh si pendatang baru ini.

Dengan RAM 1GB, prosesor quad-core Snapdragon 400, dan layar 4.7 inci, Redmi 1s hanya dibandrol 1.5 juta saja. Sebuah harga yang pada saat itu termasuk murah untuk menebus smartphone yang waktu itu berada di kisaran 2 jutaan untuk spesifikasi sekelasnya.

Xiaomi Redmi 1s

Apalagi penjualan dengan sistem flash sale yang selalu habis dengan sangat cepat, membuat Redmi 1s menjadi smartphone yang paling diburu.

Ini berlaku juga ketika Xiaomi merilis Redmi 2s, Redmi Note, dan Mi4i.

Bagaimana dengan Samsung?

Samsung waktu itu sangat percaya diri dengan flagship Galaxy S4 nya. Ketika kompetitor sudah mulai memakai metal berkualitas, Samsung masih menggunakan plastik sebagai material utama pada bodi Galaxy S4.

Hal ini berlanjut sampai di Galaxy S5. Hingga akhirnya keuntungan Samsung jauh menurun akibat material plastik pada smartphone andalannya ini. Di Liputan6.com, Samsung tercatat merugi hingga 50% pada tahun 2014 lalu.

Samsung Galaxy S5

Kisah berbeda justru dialami Xiaomi. Mereka mengukuhkan diri sebagai startup yang memiliki nilai sangat tinggi hingga pernah mencapai 46 miliar dollar AS! Kinerja yang amat baik untuk perusahaan rintisan seperti Xiaomi.

Tapi semua itu berubah ketika Xiaomi merilis laporan penjualan yang ternyata tidak mencapai target. Dari 100 juta smartphone yang menjadi target, hanya 80 juta yang dapat terealisasi.

Peraturan TKDN yang diterapkan di Indonesia juga menghambat agresivitas Xiaomi di pasar Tanah Air. Karena dengan peraturan itu Xiaomi tidak bisa menghadirkan produk buatannya seperti Redmi Note 2, Redmi 3, ataupun Mi5.

Dan juga pesaing seperti Huawei, Oppo, ataupun Vivo mulai agresif melakukan pemasaran. Hingga akhirnya ketiga pabrikan itu mampu mengenyahkan Xiaomi dari deretan 5 besar smartphone yang ada di China.

Di Indonesia sendiri ketiga pabrikan itu terlihat mampu memenuhi peraturan TKDN dan berhasil melenggang dengan mulus tanpa kehadiran si perusak pasar itu.

Xiaomi juga mulai mencoba peruntungan lain dengan merilis produk diluar smartphone. Ada purifier, drone, action cam, mesin cuci, hingga laptop yang bulan lalu diperkenalkan.

Mungkin Xiaomi ingin menjadi seperti seniornya, Samsung ataupun Sony yang menjual berbagai perlengkapan elektronik.

Sedangkan Samsung mulai bangkit. Sama seperti spirit ketika Lee Kun He memerintahkan kepada seluruh karyawannya untuk merubah segalanya, kecuali istrimu.

Change Everything, Except Your Wife. Begitu bunyinya.

Spirit kebangkitan itu mulai tercium ketika Samsung akan merilis Galaxy S6 dengan benar-benar baru dari segala hal. Project itu dinamakan Project Zero, sebuah project yang akan menggarap Galaxy S6 dari nol. Dengan spirit yang hampir sama seperti tahun 1992 yang lalu itu.

Dan akhirnya terlihat bahwa Galaxy S6 adalah smartphone flagship yang benar-benar baru. Terlihat premium dan tidak ada lagi plastik pada bodinya. Hampir seluruhnya menggunakan metal sehingga lebih berkelas.

Samsung Galaxy S6

Penjualan smartphone Samsung itupun mulai meningkat dan neraca keuangan Samsung pun mulai membaik.

Samsung sangat berbeda dengan Xiaomi. Jika Samsung mau berubah, Xiaomi belum mau untuk berubah. Mereka tetap merilis smartphone gahar dengan harga yang terjangkau.

Tidak ada yang salah dengan hal itu. Hanya pasar sepertinya sudah mulai jenuh. Perlu inovasi lain agar bisnis smartphone tetap terjaga. Apalagi bisnis smartphone adalah bisnis yang membutuhkan inovasi yang cepat. Tertinggal sedikit, bisa disalip oleh perusahaan lain.

Dari Samsung dan Xiaomi ini kita bisa belajar bahwa

1. Menjadi terkenal dalam waktu singkat adalah hal yang perlu diwaspadai kedepannya.


Terlalu cepat menjadi terkenal adalah hal yang cukup berbahaya. Ketika sudah mencapai puncak, kita tidak punya goal-goal lain yang ingin diwujudkan karena goal sebelumnya sudah terwujud hingga lupa untuk berinovasi.

2. Mewaspadai manuver yang dilakukan kompetitor kecil


Perusahaan kecil biasanya tidak punya rasa takut untuk bersaing dengan perusahaan besar. Mereka akan terus berusaha dan memiliki prinsip nothing to loose untuk melawan hegemoni pemimpin pasar dengan inovasi-inovasi yang ditawarkan.

Sedangkan perusahaan besar hanya menganggap kalau kompetitor kecil itu hanyalah butiran debu. Selama inovasi lama masih menguntungkan, kenapa harus inovasi lain?

Padahal contohnya sudah ada. Yahoo yang terjungkal oleh Google, Symbian oleh Android dan iOS, BlackBerry oleh Samsung, dan contoh lainnya.

Sang perusak pasar, Xiaomi sudah mulai agak kehilangan arah pada bisnis smartphone nya. Sedangkan sang penguasa pasar, Samsung mulai menemukan jati dirinya kembali sebagai pemimpin pasar yang terus berinovasi.
Diberdayakan oleh Blogger.