Globalisasi v3.0


Dari dulu sampai sekarang saya selalu terngiang kata globalisasi. Globalisasi sendiri menurut Wikipedia adalah proses integrasi internasional yang terjadi karena pertukaran pandangan dunia, produk, pemikiran, dan aspek lainnya.

Budaya Indonesia kurang dihargai karena pengaruh globalisasi. Padahal dengan globalisasi banyak bule yang bisa belajar Tari Jaipong, sinden, ataupun dalang pada wayang.

Lalu globalisasi versi 3.0 itu apa? Kayak software saja he he.

Sebelum ke versi 3.0, kita ke versi 2.0 dulu. Globalisasi versi 2.0 adalah ketika banyak mahasiswa (termasuk saya dulu), mengidamkan bekerja di perusahaan multinasional seperti Schlumberger (bener gak nulisnya?), BP, Baker Hughes, ataupun Chevron.

Rasanya pasti bangga dong kerja di perusahaan multinasional. Gengsinya dapet, keren, gajinya juga gede. Jadi ada bahan buat sombong sama tetangga atau sosial media wekaweka.

Kamu juga pasti seperti itu kan?

Untuk versi 1.0, ini adalah dimana orang ingin sekali memiliki kewarnegaraan lain. Menjadi warga negara Inggris, atau menjadi warga negara Amerika karena malu jadi warga negara Indonesia.

Tapi sekarang tren itu sudah mulai bergeser dan menuju globalisasi versi 3.0 yakni dimana mahasiswa berlomba untuk menciptakan startup sendiri karena pengaruh mudahnya informasi yang diterima plus sudah tidak ada batasan lagi antar negara dengan bantuan internet.

Situasi dimana mahasiswa sudah tidak memperhatikan kerja di perusahaan multinasional atau tidak, tetapi lebih mengikuti pada passion yang dimilikinya. Dengan kata lain menjadi diri sendiri.

Apa yang membuat kamu senang? Atau kamu merasa masalah ini bisa beres dengan cara kamu sendiri, lalu dibuatlah layanan yang bisa memecahkan masalah tersebut.

Siapa sih yang gak kenal tokoh seperti Nadiem Makarim dengan Go-Jek-nya? William Tanuwijaya dengan Tokopedia-nya? Atau Natali Ardianto dengan Tiket.com?  Mereka mengikuti passionnya dan hasilnya bisa dilihat sekarang.

Tapi jelas mengikuti passion itu gak mudah. Perlu tahan banting. Nadiem Makarim dicaci karena idenya dipandang remeh. William Tanuwijaya diremehkan pula oleh investor karena latar belakangnya. Natali Ardianto pun sudah gagal 2x pada saat mendirikan startup Urbanesia dan Golfnesia.

Mahasiswa jaman sekarang sudah masuk ke generasi Z. Generasi yang dimana dari kecil hingga dewasa terpapar koneksi internet yang cepat. Dimana informasi jadi lebih mudah didapat dan dipelajari dalam waktu yang relatif singkat.

Karena hal tersebut, tidak aneh jika sekarang muncul banyak enterpreneur yang mampu meraih kekayaan finansial sebelum usia 25 tahun.

Globalisasi versi 3.0 sudah dimulai. Sudah siapkah kamu menghadapinya?

Terinspirasi dari blognya Pak Budi Rahardjo
Diberdayakan oleh Blogger.