Project Loon dan Penerapannya di Indonesia


Apakah kamu sudah tahu tentang Project Loon? Kalau belum tahu, kamu bisa membaca apa itu Project Loon di Techinasia.

Atau lewat website resminya disini, Google Project Loon.

Sederhananya adalah Project Loon ini dibuat oleh Google. Bertujuan untuk mendistribusikan internet ke semua tempat yang sulit dijangkau internet ataupun bentuk telekomunikasi apapun.

Caranya adalah dengan menggunakan Loon atau balon udara. Di balon udara ini ada semacam router yang akan mendistribusikan internet ke tempat yang sulit dijangkau.

Nah baru-baru ini ternyata pemerintah kita sepakat untuk bekerja sama dengan Google atas Project Loon ini. Tentunya dengan operator telekomunikasi juga.

Yang saya tahu ada Telkomsel, XL, dan Indosat yang berkolaborasi dengan Google atas project ambisius ini.

Saya mendukung sekali program ini kalau memang jadi dilaksanakan disini. Dengan topografi Indonesia yang berbentuk kepulauan dan tersebar jauh, saya yakin kalau masyarakat yang tinggal di tempat terpencil bisa mendapatkan akses internet.

Plus sulitnya untuk membangun infrastruktur telekomunikasi yang “menguntungkan” jika akan membangun jaringan disana.

Kita memberi tanda kutip karena sulit sekali mengkategorikan sebuah perusahaan membangun sesuatu di tempat tertentu tanpa tujuan untuk usaha. Masa iya perusahaan membuat sesuatu yang jelas-jelas akan merugikan.

Menguntungkan karena mungkin sulit sekali mendapatkan keuntungan kalau BTS telekomunikasi sebuah operator ada disana dibandingkan di kota besar yang jelas sangat membutuhkan koneksi internet.

Kalau di daerah terpencil, mungkin dengan hanya jaringan 2G saja sudah sangat bersyukur.

Kembali lagi ke Loon.

Saya juga salut dengan Bapak Rudiantara selaku Menkominfo saat ini. Yang sangat gigih memperjuangkan teknologi di Indonesia.

Dan juga berupaya untuk menggeber jaringan 4G yang direncanakan akan stabil awal tahun 2016.

“Internet cepat, buat apa?”

Rencananya Loon ini akan beroperasi tahun 2016 dengan memanfaatkan frekuensi 900 MHz. Untuk itulah harus ada kesepakatan dengan pemegang frekuensi.

Tapi ada satu hal yang mengganjal. Bahwa ternyata project serupa pernah ditawarkan Bapak Onno W. Purbo selaku penggiat open source di Indonesia.

Beliau membuat Open Base Transceiver Station atau OpenBTS. OpenBTS ini memiliki fungsi yang hampir sama dengan BTS, tetapi bisa dibuat dengan lebih murah.

Contohnya saja jika BTS konvensional memerlukan biaya IDR 1.5 miliar, OpenBTS hanya perlu IDR 120 juta saja untuk jangkauan lima kilometer.

Namun OpenBTS juga memerlukan alokasi frekuensi 900 MHz yang dimiliki operator, sama seperti Project Loon milik Google.

Tetapi teknologi OpenBTS ini malah dilarang keras menggunakan frekuensi 900 MHz karena dianggap melanggar regulasi frekuensi -Kompas Tekno.

Kalau benar begini, berarti pemerintah lebih mengutamakan nama besar Google ketimbang manusia pintar dari Indonesia.

Dan sangat disayangkan kalau pemerintah tidak mengapresiasi OpenBTS ini. Teknologinya sudah ada, hanya tinggal alokasi frekuensi saja.

Mungkin nasibnya akan seperti mobil listrik Selo yang dulu pernah booming. Dari anak manusia Indonesia yang dibuat untuk Indonesia, tetapi ditolak oleh pemangku kepentingan disana. Kabar terbarunya sih sekarang akan dibeli Malaysia. CMIIW

Meskipun begitu, inisiatif pemerintah untuk menyediakan akses internet ke tempat terpencil patut diapresiasi. Karena kita tahu bahwa internet merupakan suatu kebutuhan yang utama di zaman sekarang.

Kita bisa melakukan apapun lewat internet. Bisa menjadi terkenal lewat internet. Bisa menjual dan membeli sesuatu dengan sangat mudah lewat internet. Dan bisa mengetahui informasi paling update lewat internet.

Coba kalau jaringan internet di Indonesia sama rata. Mungkin masyarakat yang ada di daerah sulit dijangkau transportasi umum bisa lebih mudah mendapatkan informasi apa sih yang terjadi di negerinya. Bagaimana kabar sanak saudaranya di luar sana dengan bantuan ponsel.

Ilustrasi
Diberdayakan oleh Blogger.