Tentang Teman dan Tentang Perjalanan Hidup Hingga Usia 20 Tahunan

Sahabat dan teman

Saya yakin kamu semua yang membaca tulisan ini mempunyai teman. Kalau kamu tidak punya teman sama sekali maka carilah. Kamu benar-benar kesepian di dunia ini.

Lalu, berapa teman yang masih ada sampai saat ini? Dalam artian masih berkomunikasi walaupun frekuensinya jarang.

Kalau boleh saya tebak, pasti hanya beberapa saja yang masih aktif berkomunikasi dengan kamu.

Mayoritas adalah teman kerja atau sahabat ketika kuliah dulu. Apakah saya salah?

Saya anggap kamu adalah seorang manusia dan masih bernafas hingga saat ini. Berusia sekitar awal 20-an.

Teman SD, kemana dia sekarang?

Teman SMP, kemana dia sekarang?

Teman SMA, kemana dia sekarang?

Teman kuliah, kemana dia sekarang?

Ada empat periode yang bisa kita manfaatkan untuk mendapatkan teman yang benar-benar teman. Yang akhirnya menjadi sahabat kita hingga sekarang.

Ketika SD, masih polos, masih bau kencur, masih belum mengerti apa-apa. Masih belum mengerti rumitnya trigonometri dan turunannya. Masih belum mengerti masalah dalam hidup.

Kita mendapatkan teman. Mungkin kalau boleh saya sebut sebagai terpaksa menjadi teman, karena berada dalam satu lingkungan yang sama dan sering berinteraksi dan akhirnya menjadi seseorang yang kita sebut kawan.

Sampai di kelas 6 SD, sebelum lulus, pasti ada yang bilang:

“Kita harus tetap kontek-kontekan ya. Harus tetap ngumpul. Jangan sombong kalau ketemu.”

Setelah usia kita 20-an, dimana orang yang bilang seperti itu sekarang?

Lanjut ke SMP. Ihiw, jadi abg nih. Sudah kenal cinta-cintaan. Sudah mulai berubah fisik. Sudah puber.

Awalnya agak takut untuk menyapa seseorang di kelas baru kita. Tapi lama-lama akhirnya kenal juga secara tidak disengaja.

Lalu dibuatlah geng. Menjadi agak nakal sedikit agar disukai lawan jenis. Wajar, masih mencari jati diri.

Sampai di kelas 9 SMP, sebelum lulus, pasti ada yang bilang:

“Kita harus tetap kontek-kontekan ya. Harus tetap ngumpul. Jangan sombong kalau ketemu.”

Setelah usia kita 20-an, dimana orang yang bilang seperti itu sekarang?

Lanjut ke SMA. Lokasinya menjadi lebih jauh karena ingin mencoba suasana baru di daerah kota. Ada MOS, wew seniornya galak-galak. Jutek-jutek.

Aduh teh jangan jutek gitu atuh. Cantiknya jadi ilang.

Kemudian disuruh bikin surat cinta (palsu).

Dan hey, akhirnya MOS sudah lewat! Sekarang kita memakai celana panjang!

Awalnya sih nanggung karena dari SD memakai celana pendek. Tapi lama-lama terbiasa.

Disini mulai lebih puber. Lebih ingin diakui oleh semua orang. Lebih ingin diperhatikan lawan jenis karena ada rasa cinta yang menggebu-gebu.

Eh pas di depannya malah diem-dieman.

Awalnya sangat minder karena dari kampung. Dan hanya beberapa orang saja dari SMP asal yang masuk ke SMA ini.

Sulit mencari teman. Tapi lama-lama dapat juga. Satu, dua, lima, tigabelas, limapuluh. Horee dapat banyak teman dan lebih asik.

Dan geng disini ternyata lebih seru. Lebih menantang pula. Jiwa muda terasa begitu kuat.

Sahabat

Sampai disini, berapa persen dari kamu yang masih berkomunikasi dengan teman SD atau SMP? Mungkin hanya 20 persen.

Sisanya?

Dan tidak terasa sudah kelas tiga. Bingung menentukan perguruan tinggi. Mulai menyusun renjana dan cita-cita untuk masa depan yang lebih baik.

Ada juga yang memilih untuk menikah. Ada.

Rasanya momen perpisahan di titik ini sudah mencapai level tertingginya. Ada emosi yang begitu kuat dari setiap orang dengan temannya di titik ini. Merasa tidak ingin terpisahkan.

Jadinya memilih untuk mendaftar di universitas yang sama, di jurusan yang sama pula.

Kembali, sampai di kelas 12 SMA, sebelum lulus, pasti ada yang bilang:

“Kita harus tetap kontek-kontekan ya. Harus tetap ngumpul. Jangan sombong kalau ketemu.”

Sekarang, dimana orang yang bilang seperti itu sekarang? Masihkah dia bertegur sapa denganmu?

Dan akhirnya diterima di universitas ternama di kota besar. Harus ngekost dan jauh dari rumah.

Ini demi hidup yang lebih baik. Demi cita-cita dan demi kedua orang tua yang sangat berharap untuk melihat anaknya menjadi sarjana.

Menjadi anak yang bisa mereka banggakan pada teman-temannya.

Di titik ini masalah hidup sudah mulai bermunculan. Mulai dari keuangan yang sangat terbatas, nilai E, dosen killer yang tidak segan-segan untuk mencaci tanpa sensor di depan umum, dosen yang memberikan tugas berlembar-lembar sampai kamu tidak tidur.

Keberadaan teman disini sangatlah penting. Teman yang saling memberi dukungan ketika salah satunya down karena berbagai masalah hidup tersebut.

Tapi beberapa saja. Karena temanmu yang lain lebih sibuk dengan tugasnya masing-masing agar cepat lulus dari sini.

Disini kita juga bisa menemukan teman yang akan senantiasa menemani kita seumur hidup dalam satu rumah.

Itupun kalau kamu beruntung.

Kalau tidak, mungkin disalip oleh alumni yang lebih mapan. Yang lebih menawarkan masa depan terjamin dengan finansial yang tinggi.

Tapi kamu tidak menyerah. Kamu harus lulus dari tempat ini.

Walaupun harus berdarah-darah, demi mendapatkan pekerjaan yang menawarkan gaji tinggi sesuai dengan keinginanmu.

Demi membiayai keluarga tercinta yang ada di kampung sana.

Demi hidup yang lebih layak.

Demi membanggakan orang tua.

Demi mengukir senyum di wajah mereka.

Demi membahagiakan mereka.

Demi menghargai hasil jerih payah mereka yang sudah rela mengorbankan apapun untuk kamu bisa tetap kuliah sampai lulus.

Dan akhirnya kamu pun lulus.

Teman-teman satu penderitaan denganmu pasti senang. Senang karena berhasil melewati ujian yang bertubi-tubi dengan gelar di belakang nama.

Dan demi pekerjaan impian. Mendapatkan penghasilan sendiri agar tidak bergantung dengan orang tua.

Lalu sekarang, dimana orang yang bilang seperti itu sekarang? Masihkah dia bertegur sapa denganmu? Yang bilang seperti ini:

“Kita harus tetap kontek-kontekan ya. Harus tetap ngumpul. Jangan sombong kalau ketemu.”

Ada?

Mungkin dibawah 10 persen. Karena di universitas kita lebih disibukkan dengan tugas, tugas, dan tugas.

Anyway, teman SMA, SMP dan SD?

Disini kita harus lebih jumawa mengadapi persoalan teman. Kita harus menerima bahwa setiap teman itu ada masanya.


Beberapa memilih untuk pergi. Tapi beberapa memilih untuk tetap bertahan denganmu. Menjalin persahabatan yang sangat erat denganmu sampai usia senja.

Di masa senja itu mereka saling berbicara tentang masa lalu mereka. Tentang masa kejayaan mereka dulu.

Beberapa ada yang masih ingat. Beberapa sudah ada yang lupa.

Pertahankan teman yang kamu punya saat ini. Yang layak diperjuangkan.

Karena kita tidak tahu apakah kita akan mendapatkan teman dan sahabat di usia sekarang ini.

Image 1 | Image 2 | Image 3
Diberdayakan oleh Blogger.