Beratnya Jadi Lajang di Sosial Media

Semua orang pasti punya media sosial. Enggak muda, enggak tua, semuanya sudah punya minimal satu akun di jejaring sosial. Mau itu Facebook, Twitter, path, instagram, dll.

Ada jejaring sosial yang baru lagi? Coba sebutin.

Tapi biasanya golongan yang udah agak tua, sekitar 40 tahun keatas, menggunakan Facebook sebagai jejaring sosial utamanya. Tapi gak menutup kemungkinan juga angkatan 92 seperti saya ini masih main disana, walaupun sepertinya udah agak jarang ya.

Saya masih buka Facebook, sesekali. Dan rasanya tidak seperti dulu. Dulu masih didominasi sama status yang sedikit alay, foto keseharian kita waktu sma dulu, ataupun jadi sarana chatting yang gak ada ujungnya.

Namun sekarang didominasi oleh pasangan yang baru menikah, foto anak, ataupun yah sejenis itulah.

Membagi kebahagiaan? Oh itu bukan alasan bung. Saya sendiri rasanya sebal melihat orang yang selama ini jaraang banget aktif di Facebook, eh setelah menikah foto mereka berdua di diupload setiap minggu. Ketika punya anak, ya ditambah sama anaknya.

Rasanya kalau udah melihat foto sejenis itu, saya merasa ingin cepat nikah. Menghujani semua jejaring sosial dengan foto saya, istri, dan anak. Biar semua tahu kalau saya sudah menikah. Woy gue dah laku nih!

Apa mungkin mereka melakukan itu karena ingin diakui? Hmm.. Entahlah.

Tapi rasanya gak mungkin saya melakukan hal seperti itu. Saya tahu batasan dan hal-hal apa saja yang patut dibagikan di jejaring sosial. Tidak semua orang suka dengan apa yang kita upload ke internet. Termasuk foto pernikahan, karena itu NSFJ. Not Safe For Jomblo.

Yang jelas jejaring sosial sudah tidak aman bagi para lajang yang ingin punya pasangan sah tapi belum ada calonnya.

Tetap semangat kawan-kawan lajang. Keep woles and stay setrong.
Diberdayakan oleh Blogger.